Hargo Basuki






         

August 7, 2009

KISAH SEORANG LANSIA TURUT SERTA DALAM PEMBANGUNAN KESEHATAN KAMPUNG HALAMANNYA DI NAGORI NEGERI BAYU MUSLIMIN

Filed under: Jurnal Puskesmas Tapian Dolok — hargo-b @ 6:56 pm

Hj.NURIAH SARAGIH
Umur : 87 Tahun
Alamat : Huta II Nagori Negeri Muslimin
9 Anak
55 cucu
18 cicit

Hj.Nuriah Saragih
Memberikan Lahan Pribadinya seluas 427 m2 untuk Lahan Pos Kesehatan Desa
di Nagori Negeri Bayu Muslimin

Pesan Hj.Nuriah Saragih
“ Infak saya untuk bangun Poskesdes, agar Posyandu Lansia tetap terus berjalan dan bisa digunakan untuk semua orang ”

Proses Pelepasan Hak Atas Tanah
Penandatanganan Surat Pelepasan Tanah disaksikan :
Anak-anak beliau.
Gamot (Kepala Dusun) Huta II.
Pangulu (Kepala Desa) Nagori Negeri Bayu Muslimin
Pada Tanggal 12 Februari 2009 di Nagori Negeri Bayu Muslimin

Surat tanah diberikan Pangulu Negeri Bayu Muslimin ke Puskesmas Tapian Dolok dan diteruskan ke Dinas Kesehatan Kab.Simalungun

Proses di Dinas Kesehatan Kab.Simalungun
Akhirnya Usulan ditampung dan Poskesdes akan dibangun pada APBD Kabupaten Simalungun Tahun 2009.

HARAPAN
Dengan dibangunnya Poskesdes di Nagori Negeri Bayu Muslimin, sebagai wadah menuju kemandirian masyarakat dibidang Kesehatan, sehingga terwujudnya DESA SIAGA

TERIMA KASIH
Kepada : Nenek Hj.Nuriah Saragih
Seorang Lansia yang mengorbankan hartanya demi kemajuan Desanya di Bidang Kesehatan

Bookmark and Share

Posyandu Lansia Sebagai Solusi Kepedulian Pemerintah Terhadap Para Lanjut Usia di Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun

Filed under: Jurnal Puskesmas Tapian Dolok — hargo-b @ 6:53 pm
Posyandu Lansia Sebagai Solusi Kepedulian Pemerintah Terhadap Para Lanjut Usia di Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun
oleh Hargo Basuki (Kepala Puskesmas Tapian Dolok)

BAB I PROFIL PUSKESMAS TAPIAN DOLOK

A. Gambaran Umum
1. Geografis, Administrasi, Batas Wilayah dan Iklim
Kecamatan Tapian Dolok mempunyai luas wilayah 114,90 km2, dengan ketinggian 220 m di atas permukaan air laut. Batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Pematang Siantar.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Raya.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Dolok Batu Nanggar.
Kecamatan Tapian Dolok mempunyai wilayah kerja satu kelurahan dan sembilan nagori.
Jumlah penduduk Kecamatan Tapian Dolok berjumlah 33.731 orang dan mayoritas beragama Islam 88,01% selebihnya Kristen Protestan, Katolik, Budha dan Hindu. Mata Pencaharian penduduknya pertanian (12,13%), PNS/TNI/Polri (8,25%), namun pada umumnya pekerjaan tidak tetap atau dikenal dengan istilah mocok-mocok (31,10%).
Melihat luasnya wilayah Kerja Puskesmas Tapian Dolok dan jauhnya jarak tempuh ke puskesmas Tapian Dolok maka Puskesmas mempunyai beberapa sarana kesehatan sebagai perpanjangan tangannya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat yaitu Puskesmas Pembantu, Pos Kesehatan Desa dan Polindes di beberapa desa.
Jarak Puskesmas Tapian Dolok ke Ibu Kota Kabupaten Simalungun, Pamatang Raya ± 42 Kilometer.

PETA WILAYAH KECAMATAN TAPIAN DOLOK
KABUPATEN SIMALUNGUN

B. Visi dan Misi Puskesmas Tapian Dolok

Visi : Terwujudnya Kecamatan Tapian Dolok yang sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat 2010.
Misi :
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di Kecamatan Tapian Dolok.
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di Kecamatan Tapian Dolok.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas Tapian Dolok kepada masyarakat Kecamatan Tapian Dolok.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perseorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya di Kecamatan Tapian Dolok.

Puskesmas Tapian Dolok terdiri dari 6 (enam) Program Pokok, yaitu :
1. Promosi Kesehatan.
2. Kesehatan Lingkungan.
3. Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana.
4. Gizi.
5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.
6. Pengobatan.

Gambar 1. Gedung Puskesmas Tapian Dolok
Gambar 2. Informasi terpampang jelas di Puskesmas Tapian Dolok

1. Program Promosi Kesehatan
Kegiatan Program Promosi Kesehatan lebih banyak di luar gedung. Kegiatan lapangan mereka berupa :
1. Peningkatan pendidikan kesehatan masyarakat.
2. Pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi.
3. Pengembangan upaya kesehatan berbasis masyarakat.
4. Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat.

Gambar 3. Salah satu kegiatan penyuluhan kesehatan di Nagori Batu Silangit bentuk pendidikan kesehatan kepada masyarakat.
Gambar 4. Pelatihan Kader dan Tokoh Masyarakat dalam menghadapi Desa Siaga sebagai upaya Pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi.
Gambar 5. Partisipasi Puskesmas Tapian Dolok ikut dalam Pertemuan Tingkat Nagori bidang kesehatan di Nagori Pematang Dolok Kahean sebagai upaya mendorong kesehatan berbasis masyarakat.
Gambar 6. Media Iklan tentang PHBS dan Kesehatan yang ditempelkan di dinding masyarakat merupakan media seruan masyarakat turut serta dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Gambar 7. Hasil kinerja Puskesmas Tapian Dolok tiap tahun yang terpampang di dinding merupakan media informasi yang layak diketahui masyarakat.
Gambar 8. Meja Informasi terdapat Kotak Pengaduan, Kritik dan Saran serta Buku-buku tentang kesehatan tersedia di Puskesmas Tapian Dolok sebagai upaya peningkatan pelayanan Puskesmas dan informasi bagi pengunjung puskesmas.

2. Program Kesehatan Lingkungan.

Survei kesehatan lingkungan yang dilaksanakan di Puskesmas Tapian Dolok yaitu Keluarga yang memiliki akses air bersih dan keluarga yang memiliki sarana sanitasi dasar di tiap-tiap nagori. Kegiatan ini juga berhubungan dengan program lain sebagai upaya menciptakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat kepada masyarakat.
Keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih diartikan sebagai keluarga yang mempunyai kemudahan dalam memperoleh air bersih dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan. Akses terhadap air bersih tahun 2008 terdapat bahwa dari 10445 keluarga yang ada dan yang diperiksa sebanyak 9815 keluarga (93,96%), yang terdiri dari air ledeng, SPT. Lihat Lampiran Tabel 1.

Sedangkan cakupan untuk kepemilikan sanitasi dasar meliputi keluarga yang memiliki air bersih sehat jumlahnya 535 (43,30%) dari jumlah yang diperiksa (1236), keluarga yang mengelola sampah yang diperiksa 535 (43,30%) dan keluarga yang memiliki pengelolaan air bersih 535 (43,30%). Lihat Lampiran Tabel 2.

3. Program Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

Pelayanan Antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif.
Cakupan pelayanan antenatal merupakan salah satu indikator yang dapat menggambarkan tingkat upaya KIA dan tingkat perilaku ibu hamil. Cakupan ini dapat dipantau melalui K1 yaitu jumlah kunjungan pertama (baru) ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal, sedangkan K4 adalah pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali dengan distribusi sekali dalam triwulan pertama, sekali dalam triwulan kedua dan dua kali dalam triwulan ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.
Cakupan pelayanan K4 Kecamatan Tapian Dolok pada tahun 2008 sebesar 765 orang atau 80,30 % dari seluruh ibu hamil sejumlah 1634 orang. Lihat Lampiran Tabel 3.

Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Kecamatan Tapian Dolok tahun 2008 sebesar 4349 akseptor, sedangkan yang menjadi peserta KB baru 662 akseptor (10,19 %) dan sebagai peserta aktif 4349 akseptor (66,97%). Lihat Lampiran Tabel 4.
Gambar 9. Terlihat Pelayanan di Klinik KIA, Puskesmas Tapian Dolok telah dilengkapi USG dengan Konsultan dr.Bachder Johan, Sp.OG dalam pemeriksaan kehamilan sebagai Upaya Peningkatan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil.
Gambar 10. Pelayanan KB, terlihat pemasangan implan di Puskesmas Tapian Dolok sebagai upaya menekan angka kelahiran.

4. Program Gizi

Status gizi masyarakat dapat diukur dengan beberapa indikator, antara lain bayi dengan status gizi balita, bayi yang berat badannya rendah (BBLR).
Balita dengan gizi buruk adalah balita yang mempunyai barat badan di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS) seperti yang diperlihatkan dalam lampiran yaitu pada tahun 2008 bayi dibawah garis merah (BMG) sebesar 1 balita atau 0,04% dari jumlah balita yang ada/ditimbang (1812) dan berat badan yang naik sebanyak 1611 balita atau 88,90%. Lihat Lampiran Tabel 5.

Gambar 11. Terlihat penyaluran MP ASI kepada masyarakat yang dilakukan petugas gizi. Pemberian MP ASI ini diprioritaskan bagi keluarga tidak mampu dengan bayi kurang berat badannya.
Gambar 12. Kegiatan penimbangan bayi di Posyandu Purbasari II, merupakan kegiatan pemantauan perkembangan bayi dan dicatat di KMS.
Gambar 13. Salah satu keberhasilan Puskesmas Tapian Dolok dalam penanganan gizi buruk. Sejak ditemukan 1 kasus gizi buruk di Kecamatan Tapian Dolok, seorang anak perempuan bernama Hijratul berumur 1 tahun 1 bulan dengan berat badan hanya 4 kg sekitar bulan Agustus 2008 yang lalu, akhirnya sang anak dibawah pengawasan ketat Puskesmas Tapian Dolok. Pemberian Oralit (cairan tubuh), Biskuit MP ASI dan kontrol terhadap gizi sang anak terus dilakukan oleh dr.Togi Jerry L.Aruan, Petugas Gizi, Supiati Tanjung dan Bidan Desa Windariani. Setelah pengamatan tanggal 6 Mei 2009 (dalam tempo 9 bulan), akhirnya Hijratul mencapai berat 8,5 Kg dan sudah bisa berdiri untuk belajar berjalan.

5. Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.

Pelayanan Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31).
Suatu desa telah mencapai target UCI apabila bayi di desa tersebut mendapat imunisasi lengkap yang terdiri dari 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 3 dosis polio, 3 dosis Hepatitis B dan I dosis campak sebelum berumur 1 tahun. Cakupan Pelayanan Imunisasi dapat dilihat pada Tabel 6.

Selain imunisasi, Puskesmas Tapian Dolok juga berupaya menekan perkembangan penyakit / wabah dengan usaha preventif, promotif, kuratif. Penyakit-penyakit menular yang ditangani dapat dilihat pada Tabel 7 sedangkan Tahun 2008 kasus TB Paru menunjukkan gejala klinis sebanyak 468 kasus dengan TB Paru positif sebanyak 53 penderita dan yang sembuh 51 penderita. Lihat Tabel 8.
Gambar 14. Salah satu Kegiatan Posyandu dalam rangka imunisasi sebagai usaha pencegahan penyakit. Kegiatan di Posyandu Purbasari II di Nagori Purbasari
Gambar 15. Salah satu kegiatan dalam upaya Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Sinaksak. Kiri : Penyuluhan DBD kepada masyarakat agar melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk, 3M. Tengah : Surveilen DBD melakukan cluster pemantauan jentik di rumah warga. Kanan : Pelaksanaan foging fokus sesuai kriteria

6. Pengobatan.

Puskesmas Tapian Dolok juga melayani pengobatan kepada masyarakat. Tidak hanya diperuntukkan bagi warga Kecamatan Tapian Dolok saja, namun siapa saja dapat mempergunakan fasilitas kesehatan yang ada. Pelayanan pengobatan ini tidak hanya dilakukan di dalam gedung saja, tapi kegiatan pelayanan pengobatan di luar gedung berjadwal dilaksanakan sebagai usaha masyarakat lebih dekat untuk berkonsultasi masalah kesehatan dengan dokter.
Pada Tahun 2008, Kasus Penyakit Infeksi Saluran Atas (ISPA) merupakan penyakit terbesar dalam kunjungan pasien berobat, yaitu 1.742 dari 11.086 Kasus. Diikuti Penyakit Kulit 1482 kasus dan Bronkitis sebanyak 1427 kasus.

Gambar 16. Pelayanan di Puskesmas Tapian Dolok juga mendapat kunjungan berkala Dokter Spesialis Anak, sebagai usaha peningkatan pelayanan pengobatan kepada masyarakat. Foto : dr.Bangun Lubis, Sp.A
Gambar 17. Situasi pelayanan kesehatan di Luar gedung berjadwal dengan mendatangkan dokter dan paramedis sebagai usaha kemudahan masyarakat dalam menikmati pengobatan Puskesmas Keliling.

Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas Tapian Dolok adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang sesuai dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok Puskesmas yang telah ada yakni :
a. Upaya Kesehatan Sekolah.
b. Upaya Kesehatan Olahraga.
c. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat.
d. Upaya Kesehatan Kerja.
e. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut.
f. Upaya Kesehatan Jiwa.
g. Upaya Kesehatan Mata.
h. Upaya Kesehatan Usia Lanjut.
i. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional.

Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, Puskesmas Tapian Dolok memiliki 5 (lima) Puskesmas Pembantu, yaitu :

Gambar 18. Pustu Bah Sulung di Nagori Dolok Maraja
Gambar 19. Pustu Dolok Kahean di Nagori Dolok Kahean
Gambar 20.Pustu Naga Dolok di Nagori Naga Dolok
Gambar 21. Pustu Nagur Usang di Nagori Nagur Usang
Gambar 22. Pustu Kampung Muslimin di Nagori Negeri Bayu Muslimin

BAB II PENGELOLAAN POSYANDU LANSIA

I. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lansia, pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya.
Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9,77% dari total jumlah penduduk. Sedangkan Jumlah Penduduk lansia Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun yang berumur 64 tahun lebih 1.256 jiwa atau 3,72% dari total jumlah penduduk seluruhnya 33.731 jiwa.
. Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini, pemerintah telah mencanangkan pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.

II. Tujuan Posyandu Lansia
Tujuan pembentukan posyandu lansia di Puskesmas Tapian Dolok, secara garis besar antara lain :
1. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
2. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.

Gambar 23. Foto bersama Lansia di Nagori Naga Dolok

III. Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia.
Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut :
- Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan.
- Meja II : melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini.
- Meja III : melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi.

Gambar 24. Situasi pendaftaran Posyandu Lansia di Nagori Purbasari

IV. Bentuk Pelayanan Posyandu Lansia
Pelayanan Kesehatan di Posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan Kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.
Jenis Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di Posyandu Lansia :
1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.
2. Pemeriksaan status mental.
3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
4. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.
5. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan.
6. Penyuluhan Kesehatan.

Gambar 25. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit di Posyandu Lansia Nagori Dolok Maraja
Gambar 26. Konsultasi salah seorang Lansia di Nagori Batu Silangit
Gambar 27. Lansia juga diberikan obat dari Puskesmas bila lansia ada keluhan

V. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut di Kecamatan Tapian Dolok
Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut pada tahun 2008 di Kecamatan Tapian Dolok sebesar 362 orang. Dimana tersebar di semua nagori dengan jumlah kelompok sebanyak 10.

BAB III PEMBAHASAN

Salah satu Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia Indonesia. Dalam rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Depkes diharapkan UHH meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,6 tahun pada tahun 2009. Dengan meningkatnya UHH, maka populasi penduduk lanjut usia juga akan mengalami peningkatan bermakna. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9,77 % dari total jumlah penduduk.
Posyandu Lansia yang dilaksanakan Puskesmas Tapian Dolok diharapkan dapat memotivasi dan menggerakkan para lanjut usia, keluarga, organisasi sosial, masyarakat dan dunia usaha dalam meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan mengembangkan jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, sosial dan membebani perekonomian baik pada lanjut usia maupun pemerintah karena masing-masing penyakit tersebut cukup banyak memerlukan dana baik untuk terapi dan rehabilitasinya.
Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Dr. Budihardja, DTM & H, MPH pada seminar sehari Lanjut Usia bertema ”Lanjut Usia Sehat dan Mandiri di Tengah Masyarakat”, di Jakarta, 17 Juni 2008 menyatakan, untuk itu rencana hidup seharusnya sudah dirancang jauh sebelum memasuki masa lanjut usia, paling tidak individu sudah punya bayangan aktivitas apa yang akan dilakukan kelak sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Diharapkan para lanjut usia melakukan pola hidup sehat yakni dengan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik/olahraga secara benar dan teratur serta tidak merokok. Kegiatan ini perlu terus untuk disosialisasikan bagi masyarakat sejak berusia muda maupun yang telah berusia lanjut, tambah dr. Budihardja.
Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan telah merumuskan berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang dapat menunjang derajat kesehatan dan mutu kehidupan lanjut usia. Program pokok kesehatan menanamkan pola hidup sehat dengan lebih memprioritaskan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif), tanpa mengabaikan upaya pengobatan (kuratif) dan rehabilitatif. Pelayanan bagi para lanjut usia yang tergolong miskin diupayakan untuk dapat diberikan secara gratis melalui prosedur yang berlaku.
Setelah kita amati, terdapat beberapa mamfaat dalam pelaksanaan Posyandu Lansia, diantaranya :
1. Kepedulian Pemerintah kepada para lansia, terutama masalah kesehatannya. Disini Lansia dapat berpikir, bahwa walaupun usia mereka tidak produktif, namun dengan peran aktif Puskesmas dalam pengembangan Posyandu Lansia, para lansia secara psikologis merasa terhibur dan dipedulikan keberadaan.
2. Sebagai tempat nostalgia lansia saat diadakan Posyandu Lansia. Dengan adanya Posyandu Lansia, para lansia yang berkumpul merasa terhibur bersama teman-teman sebayanya dan berbagi cerita nostalgia masa lalu.

Namun, beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain :
1. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.
Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia.
2. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau.
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia.
3. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu.
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia.

4. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu.
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons.
Adapun tujuan Program Kesehatan Lanjut Usia adalah meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia agar tetap sehat, mandiri dan berdaya guna sehingga tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Tujuan bahwa program Lansia adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia agar tetap sehat, mandiri dan berdaya guna sehingga tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat. Aspek-aspek yang dikembangkan adalah dengan memperlambat proses menua (degeneratif). Bagi yang merasa sudah tua perlu dipulihkan (rehabilitatif) agar tetap mampu mengerjakan kehidupan sehari-hari secara mandiri. Ini dimungkinkan dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan tentang manusia berusia lanjut (Geriatri).
Seseorang dianggap dapat berhasil menjalani proses penuaan jika dapat terhindar dari berbagai penyakit, organ tubuhnya tetap berfungsi baik, serta kemampuan berpikirnya (kognitif) masih tajam. Para lansia yang berhasil mempertahankan fungsi gerak dan berpikirnya dianggap berhasil menghadapi penuaan (successful aging) sehingga tetap dapat bekerja aktif terutama di sektor informal. Mereka biasanya dapat berbagi pengalaman dan telah mencapai tahap perkembangan psikologis dimana mereka dianggap bijaksana menyikapi kehidupan dan mendalami kehidupan spiritual.
Agar tetap aktif sampai tua, sejak muda seseorang perlu melakukan kemudian mempertahankan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik/olahraga secara benar dan teratur dan tidak merokok. Rencana hidup yang realistis seharusnya sudah dirancang jauh sebelum memasuki masa lanjut usia, paling tidak individu sudah punya bayangan aktivitas apa yang akan dilakukan kelak bila pensiun sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Berdasarkan prinsip tersebut maka lanjut usia merupakan usia yang penuh kemandirian baik dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari, bekerja maupun berolahraga. Dengan menjaga kesehatan fisik, mental, spiritual, ekonomi dan sosial, seseorang dapat memilih masa tua yang lebih membahagiakan, terhindar dari banyak masalah kesehatan.
Dengan kesadaran yang tinggi, kiranya para lansia dapat mandiri terhadap kesehatannya. Terciptanya Simalungun Sehat menuju Indonesia Sehat 2010 akan terwujud dalam pengembangan Motto “Rakyat Sehat, Negara Kuat”.
Adapun saran-saran yang dapat disampaikan :
1. Kegiatan Posyandu Lansia di Puskesmas Tapian Dolok masih banyak kekurangan, kiranya perlu masukan yang membangun untuk meningkatkan Posyandu Lansia yang akan datang.
2. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun, aparat kecamatan maupun nagori dalam hal kerjasama dalam mendukung peningkatan Posyandu Lansia.

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Menyongsong Lanjut Usia Tetap Sehat dan Berguna. www.depkes.go.id, 28 Juni 2008.
2. Departemen Kesehatan RI. Jumlah Penduduk Lanjut Usia Meningkat. www.depkes.go.id, 18 Juni 2008.
3. Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun. Kecamatan Tapian Dolok Dalam Angka 2004. Koordinator Statistik Kecamatan Tapian Dolok, 2005.

Bookmark and Share

April 16, 2009

Raih 80.000 suara di Sergai - T.Tinggi, Partai Demokrat berpeluang merebut 2 kursi DPRDSU

Filed under: Pemilu 2009 — hargo-b @ 7:09 am
Medan (SIB)
Partai Demokrat menjadi mega bintang pada Pemilu 2009 ini, hampir di setiap propinsi, maupun kabupaten/kota partai besutan DR Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini menjadi pemenang termasuk di Dapil 3 Sumut (Serdang Bedagai-Tebingtinggi) Demokrat melenggang sebagai pemenang dengan perkiraan meraih suara 80.000 sehingga memungkinkan untuk meraih 2 kursi di DPRD Sumut.
Ketua DPC Partai Demokrat Sergai Dra Hj Dartatik Damanik kepada wartawan, Rabu (15/4) di Medan mengatakan, perjuangan keras Demokrat di dua daerah itu membuahkan hasil yang mengagumkan. Karena terjadi persaingan di Dapil 3 tersebut, hanya 5 kursi yang tersedia untuk diperebutkan 38 partai.
Dalam persaingan yang ketat itu, Demokrat unggul bahkan memborong 2 kursi sekaligus, figur yang akan dihantar ke Gedung Dewan Sumut Jalan Imam Bonjol Medan tersebut diperkirakan adalah Dra Hj Dartatik Damanik dan Drs H Rahmad P Hasibuan. Dalam perhitungan tim saksi Demokrat, di Tebingtinggi diraih suara 20.000 dan di Sergai 60.000. Dengan demikian partai ini berpotensi menggondol 9 kursi di DPRD Sergai dan 5 kursi di DPRD Tebingtinggi dan 2 kursi ke DPRD Sumut.
Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumut Drs H Rahmad P Hasibuan membenarkan hal itu dan segera menginstruksikan kepada seluruh kader untuk merapatkan barisan dengan membuat posko 24 jam bagi Demokrat guna mengamankan perolehan suara untuk menghindari terjadinya kecurangan-kecurangan mengingat penghitungan suara di PPK belum selesai.
Didampingi Korwil Sergai-Tebingtinggi H Ismail, Rahmad mengungkapkan, siapa yang akan duduk itu tidak jadi soal karena sudah jelas bahwa Pemilu 2009 berdasarkan suara terbanyak. Apalagi Demokrat bukan semata mengejar kursi tapi bagaimana para legislatifnya dapat memperjuangkan aspirasi rakyat pendukungnya.
Dengan perolehan yang mengagumkan itu, Partai Demokrat berpeluang besar menjadi Ketua DPRD Sergai. Ketika ditanya siapa yang bakal dicalonkan partai untuk dipilih menjadi Ketua Dewan. Dartatik menjawab, bahwa dia akan mengadopsi kriteria yang telah ditetapkan partai, namun semua itu terlihat setelah anggota DPRD dilantik. Tentunya calon ketua yang akan dimajukan adalah orang yang memiliki kecakapan, pengalaman serta pendidikannya.
Pada Pemilu 2004 lalu, Demokrat Sergai tidak mendudukkan satupun wakilnya di DPRD, sehingga hasil yang diperoleh DPC Demokrat pimpinan Hj Dartatik Damanik ini cukup mendapat acungan jempol. Bagaimana tidak, dari tidak punya kursi, langsung menggondol 9 kursi. Hal itu juga diakui oleh Rahmad dan memuji keberhasilan Dartatik memimpin Demokrat di kabupaten yang baru itu.
Dalam rapat pimpinan nasional Partai Demokrat 25-26 April mendatang di Jakarta yang dihadiri Ketua DPD, Sekretaris, Ketua Bappilu Propinsi dan Ketua DPC se Indonesia, keberhasilan DPC Demokrat akan disampaikan kepada Ketua Dewan Pembina Demokrat SBY. Dengan kemenangan ini, kata Rahmad, Demokrat akan berusaha merebut kekuasaan baik itu di Kabupaten Sergai maupun di Sumut. (M24/d)

Dikutip dari : Harian SIB, 16 April 2009

Ketua Partai Demokrat Kab.Serdang Bedagai, Dra.Hj.Dartatik Damanik, Apth, MM nomor 3 dari kiri
Bookmark and Share

Partai Demokrat Sergai Yakin Meraih 9 Kursi, 7 Kursi sudah ditangan

Filed under: Pemilu 2009 — hargo-b @ 7:06 am
Sergai (SIB)
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Serdang Bedagai (Sergai) optimis dapat meraih 9 kursi di DPRD Sergai pada pemilu 2009. Ketua DPC Partai Demokrat Sergai Dra Hj Dartatik Damanik mengatakan, Demokrat di kabupaten baru tersebut mencapai perolehan suara sekitar 25 persen.
Pada pemilu 2009 ini, Sergai dibagi dalam 5 Daerah Pemilihan (Dapil) dengan memperebutkan 45 kursi. Berdasarkan hasil perhitungan sementara, Demokrat sudah meraih 7 kursi.
Tujuh kursi sudah ditangan, kami memprediksikan 8-9 kursi akan kami raih karena sampai saat ini penghitungan suara masih berlangsung,” ucap Dartatik yang juga mantan Wakil Bupati Simalungun di era Jhon Hugo Silalahi itu, Senin (13/4) di Bappilu Demokrat Jalan Suprapto Medan.
Tidak hanya untuk DPRD Sergai, perburuan kursi untuk DPRD Sumut Dapil 3 Sergai dan Tebing Tinggi ini Demokrat yakin mengantarkan wakilnya dua orang di DPRD Sumut. Persaingan kursi di Dapil 3 ini cukup ketat karena dari 38 partai hanya 5 kursi yang diperebutkan, namun Demokrat yakin akan menggondol 2 kursi.
Menurut Dartatik, partainya semula menargetkan 1 kursi tiap dapil, tapi kini jumlah yang mereka peroleh sudah melebihi target. Rata-rata di tiap Dapil Demokrat meraih 2 kursi, hanya di Kecamatan Pantai Cermin mereka meraih 1 kursi.
Semenjak memimpin Demokrat Sergai tahun 2007, Dartatik terus melakukan konsolidasi sampai ke grassroot sehingga muncul kepercayaan masyarakat terhadap Demokrat. Keyakinan masyarakat itu didukung dengan perintah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat DR Susilo Bambang Yudhoyono agar kader Demokrat senantiasa memperhatikan kesulitan masyarakat dan melaporkannya kepada birokrat.
Buah dari kerja keras Dartatik dan jajarannya sangat manis, kepercayaan masyarakat dibuktikan dengan memilih Demokrat sehingga unggul pada perolehan suara.
“Terima kasih atas kepercayaan masyarakat Sergai terhadap Demokrat, yakinlah aspirasi anda pasti kami perjuangkan nanti di Dewan,” ucap Dartatik bersemangat. (M24/q)

Dikutip dari : Harian SIB Edisi 14 April 2009

Ketua Partai Demokrat kab.Sergai, Dra.Hj.Dartatik Damanik, Apt, MM. No.3 dari kiri
Bookmark and Share

March 23, 2009

Kalau kuingat nasehatmu Bapak Ibu

Filed under: Balads — hargo-b @ 11:33 pm

Suatu hari saya dapat kiriman dari teman saya Evi Saragih. Sebuah disk MP3 lagu Simalungun melalui Vonsa Tampubolon. Wah, saya sangat senang mendapat hadiah darinya. Kebetulan Evi Saragih ini teman saya chat di dunia maya dan dia sendiri bekerja di PMI Cab.Sumatera Utara dimana sekarang lagi bertugas di Nias. Dan dia sendiri berasal dari Pamatang Raya Kab.Simalungun.

Nah, sebenarnya saya masih belajar Bahasa Simalungun, hahaha…biasanya yang tahu Bahasa Indonesia, Inggris (Fasih loh), Mandarin dan Bahasa Jawa. Saya tertarik dengan Bahasa Simalungun dengan alasan saya bekerja di Pemerintah Kabupaten Simalungun, nah itu dia, dapur saya pun dari Rakyat Simalungun. Alasannya banyaklah kenapa saya mau belajar Bahasa Simalungun (Tapi dikantor saya tidak menerapkan Bahasa Simalungun sebagai pengantar ya, melainkan Bahasa Indonesia, walaupun staf saya rata-rata berasal dari suku Simalungun) diantaranya yah….disekeliling saya tetanggaan dengan suku Simalungun. Pernah ada pasien saya yang sudah lansia, sama sekali kalo berbicara pakai Bahasa Simalungun, hingga tidak mengerti Bahasa Indonesia, saya jadi agak kewalahan. Beruntung staf saya di Klinik yang bernama Ratna Damanik dan Aspitah Tepgadarani Damanik yang notabene mereka berasal dari Sipispis, Kab.Serdang Bedagai bisa berbahasa Simalungun dengan fasih.

Lamban laun, saya mengertilah Bahasa Simalungun, terutama teman akrab saya Harlen Tuah Damanik dan Laster Damanik mengajari saya Bahasa Simalungun. Alhamdulillah, akhirnya bisa, walaupun intonasi saya tidak pantas untuk berbahasa Simalungun.

Nah, kembali ke awal, suatu saat terdengar saya dari MP3 pemberian Evi Saragih yang judulnya ANGGO HUDINGAT PODAHMU BAPA INANG (Kalau kuingat nasehatmu Bapak Ibu).
Wah…saya jadi teringa ortu saya kalau menyuruh saya belajar sampai marah-marah. Apalagi prestasi sekolah kalau buruk, pasti mereka sangat marah. Nah…..dulu saya ngomel dalam hati kalau mereka marah masalah studi. Yah…walaupun begitu isi lagunya, tapi saya gak sampai titik akhir dari lagu tersebut. Hehehe…..Duh…jadi kangen ama Ortu saya yang di Surabaya. Saya jadi merasa berdosa sama mereka. Untung mereka tetap semangat mensupport saya sewaktu sekolah. I love you Dad, Mom…. I mizz all you. Oya Evi saragih, makasih ya……………………

.

Berikut Text lagunya :

Anggo hudingat podahmu Bapak Inang

Hudingat do ale bapa inang
Podahmu i ganup hubakku on
Anggo hudingat podahmu bapa inang
Jenges ni ai to nahmu ondi
Lang lang ni ai hatamu ondi
Tariluh ham manganju au
Seng panangaman songon on ma au hape

Anggo hudingat podahmu Bapa Inang
Marsuruh au bujur sikolah
Ase ulang holi manosal leas do au bai podahmu
Hape sonari panosalan mando roh

Sonari huboban ma haganup
Borit ni sitaronon on
Huboto soya podahmu ganup
Manaron ma au songonon

Bei ise mangaduh au
Borit ni i sombuh ni i Bapa Inang
Anggo hudingat podahmu Bapa Inang

Nah kalo mau dengar lagu ini lebih jelas silahkan buka imeem saya di :

http://www.imeem.com/people/vb9SQuR/music/OGr4or0G/liz-ak-anggo-hudingat-podahmu-baoa-inangmp3/

Bookmark and Share

March 11, 2009

Struktur Organisasi Puskesmas Tapian Dolok

Filed under: Jurnal Puskesmas Tapian Dolok — hargo-b @ 9:51 am

Struktur Organisasi Puskesmas Tapian Dolok

Kepala Puskesmas : drg. Hargo Basuki

Sekretaris : Supomo

1. Bagian SP2TP, Umum dan Perlengkapan : Karto Pasaribu

2. Bendahara : Mariani Saragih

I. Bagian Promosi Kesehatan : Roslina Purba

II. Bagian KIA dan KB : Dalan Sorbina Siburian

III. Bagian Gizi : Supiaty Tanjung

IV. Bagian Pemberantasan Penyakit Menular : Elbani Br.Ginting

V. Bagian Kesehatan Lingkungan : Riris Tambunan

Staf Medis Fungsional :

1. dr. Novi Silvia Vera.

2. dr. Marliana Lubis.

3. dr. Togi Jerry L. Aruan.

4. dr. Ratna Kusuma.

5. drg. Erika Natalia Girsang.

Instalasi Farmasi : Gusniar Simarmata

Laboratorium : Anita Sianipar

Satelit Puskesmas Tapian Dolok :

I. Pustu Bah Sulung : Utari

II. Pustu Dolok Kahean : Linnaria Girsang

III. Pustu Naga Dolok : Mawarni Sinaga

IV. Pustu Nagur Usang : Ramianta Saragih

V. Pustu Kampung Muslimin : Eliasari Br. Kaban, AMKeb

VI. Polindes Sinaksak : Ika Sari Dewi Sinuhaji

VII. Polindes Dolok Maraja : Windariani

VIII. Polindes Purbasari : Maria

IX. Polindes Batu Silangit : Titin Romaito Pakpahan, AMKeb

X. Polindes Dolok Kahean : Ratna Sinaga

XI. Polindes Pematang Dolok Kahean : Utami Tri Buana, AMKeb

XII. Poskesdes Naga Dolok : Reni, AMKeb

XIII. Polindes Nagur Usang : Fitriyani Siregar, AMKeb

XIV. Polindes Negeri Bayu Muslimin : Rofiqoh Nasution, AMKeb

XV. Polindes Dolok Ulu : Mawaddah

Bookmark and Share

February 27, 2009

RENCANA KEGIATAN DAN PEMBANGUNAN BIDANG KESEHATAN

Filed under: Jurnal Puskesmas Tapian Dolok — hargo-b @ 6:39 am

RENCANA KEGIATAN DAN PEMBANGUNAN BIDANG KESEHATAN
KECAMATAN TAPIAN DOLOK TAHUN ANGGARAN 2010

I. PUSKESMAS TAPIAN DOLOK

1. Pembangunan Pos Kesehatan Desa , 1 unit, Huta II Nagori Negeri Bayu Muslimin.

2. BIDANG PROMOSI KESEHATAN
2.1. Penyuluhan tentang penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Tapian Dolok.
2.2. Review pelatihan kader dan tokoh masyarakat dalam menghadapi desa siaga.
2.3. Pelatihan Kader Posyandu dalam rangka refresh peningkatan kinerja kader posyandu.
2.4. Pelatihan P3K bagi Dokter Kecil di SD Negeri.
2.5. Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah / Usaha Kesehatan Gigi sekolah dengan tujuan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
2.6. Pelatihan P3K bagi Saka Bakti Husada di Kecamatan Tapian Dolok.
2.7. Musyawarah tingkat nagori dalam rangka review kesiapan desa siaga.

3. BIDANG KESEHATAN IBU DAN ANAK SERTA KELUARGA BERENCANA
3.1. Penyuluhan tentang ASI Eksklusif.
3.2. Pembuatan stiker rumah untuk penunjuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi ibu hamil.
3.3. Penyuluhan tentang alat kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS).
3.4. Penyuluhan Kesehatan Reproduksi kepada remaja
3.5. Penyuluhan tentang Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Ibu Hamil kepada Ibu-ibu hamil di Kecamatan Tapian Dolok.
3.6. Pengadaan Bidan Kit bagi Bidan Desa.

4. BIDANG GIZI
4.1. Pemberian makanan tambahan di Posyandu.
4.2. Pemberian paket makanan tambahan lokal pada balita dengan berat badan kurang selama 3 bulan.
4.3. Pemberian paket susu kepada Ibu-ibu hamil dengan kondisi anemia defisiensi zat besi / berat badan kurang.
4.4. Penyuluhan tentang keluarga sadar gizi di Kecamatan Tapian Dolok.
4.5. Penyuluhan tentang MP ASI di 3 Nagori di Kecamatan Tapian Dolok.
4.6. Pengadaan timbangan posyandu
4.7. Cetak Kartu Menuju Sehat

5. BIDANG PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR
5.1. Pengadaan alat penyemprot nyamuk :
5.1.1. Mesin semprot.
5.1.2. Pestisida
5.1.3. Solar
5.2. Pelaksanaan pemantauan secara cluster rumah penduduk oleh Tim Pemantau Jentik.
5.3. Pelaksanaan surveilen Acute Flaccyd Paralysis (AFP) di Kecamatan Tapian Dolok.
5.4. Transport petugas Jurim untuk mengambil vaksin di Dinas Kesehatan Kab.Simalungun.
5.5. Pembuatan peta kecamatan dalam rangka pengetahuan tentang cakupan imunisasi
5.6. Penyuluhan tentang Pengawasan Minum Obat bagi keluarga penderita TB Paru / Kusta.
5.7. Penyuluhan tentang menjaga kesehatan untuk mencegah ISPA dalam menghadapi Global Warning.
5.8. Penyuluhan tentang IMS dan HIV/AIDS kepada remaja.
5.9. Penyuluhan kepada masyarakat tentang persiapan foging.

6. BIDANG KESEHATAN LINGKUNGAN
6.1. Transport petugas pengutip kesehatan berkala di Kecamatan Tapian Dolok selama 2 semester.
6.2. Pemantauan makanan kemasan kadaluarsa dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru
6.3. Penyuluhan tentang makanan sehat kepada penjual jajanan sekolah.

7. TATA USAHA
7.1. Pengadaan Alat Tulis Kantor
7.2. Pengadaan Alat Tulis Kantor Poskesdes Naga Dolok
7.3. Pengadaan Alat Tulis Kantor 9 Polindes
7.4. Pengadaan Slide Proyektor untuk menunjang kegiatan penyuluhan, minilok dsb.
7.5. Pengadaan mesin printer.
7.6. Pelaksanaan rapat minilokakarya Puskesmas.
7.7. Pengadaan mesin genset

8. KEGIATAN MENUNJANG PELAYANAN DASAR DAN RAWAT INAP
8.1. Pengadaan film rontgen dan regensia.
8.2. Pengadaan alat periksa kolesterol dan trigesilida
8.3. Pengadaan regensia pemeriksaan golongan darah
8.4. Pengadaan dental x ray unit
8.5. Pelatihan dokter dan petugas dalam menggunakan ECG.
8.6. Pelatihan petugas dalam menggunakan alat rontgen.
8.7. Pelatihan dokter dan petugas dalam menggunakan USG.
8.8. Pengadaan 10 bed pasien.
8.9. Pengadaan tiang infus
8.10. Pengadaan tabung oksigen
8.11. Pengadaan kursi roda
8.12. Pengadaan tempat tidur sorong
8.13 Pengadaan meja ginekolog
8.14. Pengadaan peralatan dapur
8.14.1. Kompor gas
8.14.2. Tabung gas
8.14.3. Peralatan masak
8.14.4. Piring melamin pasien
8.14.5. Gelas

II. PUSKESMAS PEMBANTU BAH SULUNG

1. Rehab sedang Puskesmas Pembantu Bah Sulung
2. Pengadaan mobiler Puskesmas Pembantu Bah Sulung
2.1. Meja pegawai
2.2. Kursi pegawai
2.3. Kursi Plastik
2.4. Lemari obat
2.5. Lemari kendali
2.6. White Board
3. Pemasangan arus listrik / PLN di Puskesmas Pembantu Bah Sulung
4. Pembuatan sumur bor di Puskesmas Pembantu Bah Sulung
5. Pengadaan kendaraan roda dua Kepala Pustu Bah Sulung
6. Pengadaan Bidan Kit
7. Pengadaan alat tulis kantor
8. Pengadaan Poliklinik Set

III. PUSKESMAS PEMBANTU DOLOK KAHEAN

1. Rehab berat Puskesmas Pembantu Dolok Kahean
2. Pengadaan mobiler Puskesmas Pembantu Dolok Kahean
3.1. Meja pegawai
3.2. Kursi pegawai
3.3. Kursi Plastik
3.4. Lemari obat
3.5. Lemari kendali
3. Pembuatan sumur bor di Puskesmas Pembantu Dolok Kahean
4. Pengadaan kendaraan roda dua Kepala Pustu Dolok Kahean
5. Pengadaan Bidan Kit
6. Pengadaan alat tulis kantor

IV. PUSKESMAS PEMBANTU NAGA DOLOK

1. Rehab sedang Puskesmas Pembantu Naga Dolok
2. Pengadaan mobiler Puskesmas Pembantu Naga Dolok
2.1. Meja pegawai
2.2. Kursi pegawai
2.3. Kursi Plastik
2.4. Lemari obat
2.5. Lemari kendali
3. Pengadaan kendaraan roda dua Kepala Pustu Naga Dolok
4. Pengadaan Bidan Kit
5. Pengadaan alat tulis kantor

V. PUSKESMAS PEMBANTU KAMPUNG MUSLIMIN

1. Rehab sedang Puskesmas Pembantu Kampung Muslimin
2. Pengadaan mobiler Puskesmas Pembantu Kampung Muslimin
2.1. Meja pegawai
2.2. Kursi pegawai
2.3. Kursi Plastik
2.4. Lemari obat
2.5. Lemari kendali
2.6. White board
3. Pengadaan kendaraan roda dua Kepala Pustu Kampung Muslimin
4. Pengadaan Bidan Kit
5. Pengadaan alat tulis kantor

VI. PUSKESMAS PEMBANTU NAGUR USANG

1. Alat tulis kantor 1 paket Nagori Nagur Usang
2. Pengadaan kendaraan roda dua bagi Kepala Pustu Nagur Usang

Bookmark and Share

February 9, 2009

Orthodontics Treatments

Filed under: Jurnal Puskesmas Tapian Dolok — hargo-b @ 10:23 pm
What is orthodontic treatment?

Types of appliance

Importance of orthodontic treatment

When can you start?

How long do you have to wear braces?

What can you do if any complication arises from wearing braces?

Is there anything you can do to ensure the success of treatment?

What is orthodontic treatment?

Orthodontic treatment is a specialised area of dentistry to prevent or correct irregular teeth and facial imbalance.

Crowded teeth
Rotated tooth

Types of appliance

The types of appliance used depend on individual problem. It can be :

fixed appliance
removable appliance

Importance of orthodontic treatment

Orthodontic treatment can :

* improve facial appearance.
* reduce the risk of injury to protruding front teeth.
* correct poor bite.
* improve chewing of food.
* reduce the susceptibility to gum disease and tooth decay (dental caries).

When can you start?

Treatment can be done at any age; most children receiving treatment are 10 - 12 years of age.

How long do you have to wear braces?

The treatment length depends on the underlying condition, usually from 18 to 30 months.

What can you do if any complication arises from wearing braces?

You need to see your orthodontist as soon as possible but there are some simple steps you can do in cases of emergencies.

* Loose brackets :
o Do not try to remove them yourself. Cover the loose bracket with soft wax if it causes irritation.

* Protruding wires :
o Do not try to pull out the wire. Cover the protruding wire with a ball of soft wax.

* Protruding elastic hook :
o Use a pencil to push the hook in.
o Cover the protruding elastic hook with a ball of soft wax.

* Sore teeth :
o Eat soft foods.
o Take a painkiller.

s there anything you can do to ensure the success of treatment?

To ensure the success of your treatment, you need to :

* brush and floss teeth after every meal.
* avoid eating hard food, sticky food and food high in sugar and acid content.
* keep your appointments with the orthodontist.
* avoid habits such as thumb sucking, fingernail biting, chewing on pens, etc.

Bookmark and Share

Orthodontics

Filed under: Uncategorized — hargo-b @ 10:22 pm
Definition

Orthodontics is formally defined by the American Association of Orthodontics as ‘The area of dentistry concerned with the supervision, guidance and correction of the growing and mature dentofacial structures, including those conditions that require movement of teeth or correction of malrelationships and mal relationships between and among teeth and facial bones by the application of forces and.or the stimulation and redirection or the functional forces within the craniofacial complex’

history

Irregular teeth have been a major problem for some individuals since antiquity and attempts to correct them go back to at least 1000 B.C. Orthodontic appliances have been found from Greek and Etruscan materials.

Dr. Edward H. Angle was the first orthodontist—the first dentist to limit his practice to orthodontics only. He is considered the “Father of Modern Orthodontics.”
Also removable appliances, or “plates”, headgear, expansion appliances, and many other devices can be used to move teeth. Functional and orthopaedics appliances are used in growing patients (age 5 to 14) with the aim to modify the jaw dimensions and relationship if these are altered. (See Prognathism.) This therapy is frequently followed by a fixed multibracket therapy to align the teeth and refine the occlusion.
After a course of active orthodontic treatment, patients will often wear retainers, which will maintain the teeth in their improved position while the surrounding bone reforms around them. The retainers are generally worn full-time for a short period, perhaps 6 months to a year, and then worn periodically (typically nightly during sleep) for as long as the orthodontist recommends. It is possible for the teeth to stay aligned without regular retainer wear. However, there are many reasons teeth will crowd as a person ages; thus there is no guarantee that teeth, orthodontically treated or otherwise, will stay aligned without retention. For this reason, many orthodontists recommend periodic retainer wear for many years (or indefinitely) after orthodontic treatment.

Appropriately trained doctors align the teeth with respect to the surrounding soft tissues, with or without movement of the underlying bones, which can be moved either through growth modification in children or jaw surgery (orthognathic surgery) in adults.
Headgear & J-hooks for connection into the patient’s mouth.

Several appliances are utilized for growth modification; including functional appliances, Headgear and Facemasks.

These “orthopedic appliances” may influence the development of an adolescent’s profile and give an improved aesthetic and functional result.

Methods

If the main goal of the treatment is the dental displacement, most commonly a fixed multibracket therapy is used. In this case orthodontic wires are inserted into dental braces, which can be made from stainless steel or a more aesthetic ceramic material.

Dental braces, with a powerchain, removed after completion of treatment.
Hawley retainers are the most common type of retainers. This picture shows retainers for the top and bottom of the mouth.

Conditions

The most common condition that the methods of orthodontics are used for is correcting anteroposterior discrepancies. Another common situation leading to orthodontic treatment is crowding of the teeth.

Anteroposterior discrepancies

Anteroposterior discrepancies are deviations between the teeth of the upper and lower jaw in the anteroposterior direction. For instance, the top teeth can be too far forward relative to the lower teeth (”increased overjet”.) The headgear is attached to the braces via metal hooks or a facebow and is anchored from the back of the head or neck with straps or a head-cap. Elastic bands are typically then used to apply pressure to the bow or hooks. Its purpose is to slow-down or stop the upper jaw from growing, hence preventing or correcting an overjet. For more details and photographs, see Orthodontic headgear.

Headgear & J-hooks for connection into the patient’s mouth.

Crowding of teeth

Another common situation leading to orthodontic treatment is crowding of the teeth. In this situation, there is insufficient room for the normal complement of adult teeth, which may require tooth removal in order to make enough room for the remaining teeth.

Orthodontic treatment of crowded teeth; the canine is being pulled down into proper position with highly flexible co-axial wire. This patient also presents with a cross bite, where the upper molar is more lingual (towards the tongue) than the opposing lower molar.

Diagnosis and treatment planning

In diagnosis and treatment planning, the orthodontist must (1) recognize the various characteristics of malocclusion and dentofacial deformity; (2) define the nature of the problem, including the etiology if possible; and (3) design a treatment strategy based on the specific needs and desires of the individual. (4) present the treatment strategy to the patient in such a way that the patient fully understands the ramifications of his/her decision. [1]

References

1. ^ T. M. Graber, R.L. Vanarsdall, Orthodontics, Current Principles and Techniques, “Diagnosis and Treatment Planning in Orthodontics”, D. M. Sarver, W.R. Proffit, J. L. Ackerman, Mosby, 2000

Bookmark and Share

February 8, 2009

orthodontics

Filed under: Jurnal Puskesmas Tapian Dolok — hargo-b @ 8:03 am

Orthodontics is a specialty of dentistry that is concerned with the study and treatment of malocclusions (improper bites), which may be a result of tooth irregularity, disproportionate jaw relationships, or both. The word comes from the Greek words ortho meaning straight and odons meaning tooth.

Orthodontic treatment can focus on dental displacement only, or can deal with the control and modification of facial growth. In the latter case it is better defined as “dentofacial orthopedics”.

Orthodontic treatment can be carried out for purely aesthetic reasons with regards to improving the general appearance of patients’ teeth. However, there are Orthodontists, who work on reconstructing the entire face, rather than focusing exclusively on teeth. Nonetheless, treatment is most often prescribed for practical reasons such as providing the patient with a functionally improved bite (occlusion).

Definition

Orthodontics is formally defined by the American Association of Orthodontics as ‘The area of dentistry concerned with the supervision, guidance and correction of the growing and mature dentofacial structures, including those conditions that require movement of teeth or correction of malrelationships and mal relationships between and among teeth and facial bones by the application of forces and.or the stimulation and redirection or the functional forces within the craniofacial complex’

history

Irregular teeth have been a major problem for some individuals since antiquity and attempts to correct them go back to at least 1000 B.C. Orthodontic appliances have been found from Greek and Etruscan materials.

Dr. Edward H. Angle was the first orthodontist—the first dentist to limit his practice to orthodontics only. He is considered the “Father of Modern Orthodontics.”

Methods

If the main goal of the treatment is the dental displacement, most commonly a fixed multibracket therapy is used. In this case orthodontic wires are inserted into dental braces, which can be made from stainless steel or a more aesthetic ceramic material.

Dental braces, with a powerchain, removed after completion of treatment.

Also removable appliances, or “plates”, headgear, expansion appliances, and many other devices can be used to move teeth. Functional and orthopaedics appliances are used in growing patients (age 5 to 14) with the aim to modify the jaw dimensions and relationship if these are altered. (See Prognathism.) This therapy is frequently followed by a fixed multibracket therapy to align the teeth and refine the occlusion.

Hawley retainers are the most common type of retainers. This picture shows retainers for the top and bottom of the mouth.

After a course of active orthodontic treatment, patients will often wear retainers, which will maintain the teeth in their improved position while the surrounding bone reforms around them. The retainers are generally worn full-time for a short period, perhaps 6 months to a year, and then worn periodically (typically nightly during sleep) for as long as the orthodontist recommends. It is possible for the teeth to stay aligned without regular retainer wear. However, there are many reasons teeth will crowd as a person ages; thus there is no guarantee that teeth, orthodontically treated or otherwise, will stay aligned without retention. For this reason, many orthodontists recommend periodic retainer wear for many years (or indefinitely) after orthodontic treatment.

Appropriately trained doctors align the teeth with respect to the surrounding soft tissues, with or without movement of the underlying bones, which can be moved either through growth modification in children or jaw surgery (orthognathic surgery) in adults.

Headgear & J-hooks for connection into the patient’s mouth.

Several appliances are utilized for growth modification; including functional appliances, Headgear and Facemasks.

These “orthopedic appliances” may influence the development of an adolescent’s profile and give an improved aesthetic and functional result.

Conditions

The most common condition that the methods of orthodontics are used for is correcting anteroposterior discrepancies. Another common situation leading to orthodontic treatment is crowding of the teeth.

Anteroposterior discrepancies

Anteroposterior discrepancies are deviations between the teeth of the upper and lower jaw in the anteroposterior direction. For instance, the top teeth can be too far forward relative to the lower teeth (”increased overjet”.) The headgear is attached to the braces via metal hooks or a facebow and is anchored from the back of the head or neck with straps or a head-cap. Elastic bands are typically then used to apply pressure to the bow or hooks. Its purpose is to slow-down or stop the upper jaw from growing, hence preventing or correcting an overjet. For more details and photographs, see Orthodontic headgear.

Orthodontic treatment of crowded teeth; the canine is being pulled down into proper position with highly flexible co-axial wire. This patient also presents with a cross bite, where the upper molar is more lingual (towards the tongue) than the opposing lower molar.

Crowding of teeth

Another common situation leading to orthodontic treatment is crowding of the teeth. In this situation, there is insufficient room for the normal complement of adult teeth, which may require tooth removal in order to make enough room for the remaining teeth.

Diagnosis and treatment planning

In diagnosis and treatment planning, the orthodontist must (1) recognize the various characteristics of malocclusion and dentofacial deformity; (2) define the nature of the problem, including the etiology if possible; and (3) design a treatment strategy based on the specific needs and desires of the individual. (4) present the treatment strategy to the patient in such a way that the patient fully understands the ramifications of his/her decision. [1]

References

  1. ^ T. M. Graber, R.L. Vanarsdall, Orthodontics, Current Principles and Techniques, “Diagnosis and Treatment Planning in Orthodontics”, D. M. Sarver, W.R. Proffit, J. L. Ackerman, Mosby, 2000
Bookmark and Share
Next Page »