Hargo Basuki






         

August 7, 2009

Posyandu Lansia Sebagai Solusi Kepedulian Pemerintah Terhadap Para Lanjut Usia di Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun

Filed under: Jurnal Puskesmas Tapian Dolok — hargo-b @ 6:53 pm
Posyandu Lansia Sebagai Solusi Kepedulian Pemerintah Terhadap Para Lanjut Usia di Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun
oleh Hargo Basuki (Kepala Puskesmas Tapian Dolok)

BAB I PROFIL PUSKESMAS TAPIAN DOLOK

A. Gambaran Umum
1. Geografis, Administrasi, Batas Wilayah dan Iklim
Kecamatan Tapian Dolok mempunyai luas wilayah 114,90 km2, dengan ketinggian 220 m di atas permukaan air laut. Batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Pematang Siantar.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Raya.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Dolok Batu Nanggar.
Kecamatan Tapian Dolok mempunyai wilayah kerja satu kelurahan dan sembilan nagori.
Jumlah penduduk Kecamatan Tapian Dolok berjumlah 33.731 orang dan mayoritas beragama Islam 88,01% selebihnya Kristen Protestan, Katolik, Budha dan Hindu. Mata Pencaharian penduduknya pertanian (12,13%), PNS/TNI/Polri (8,25%), namun pada umumnya pekerjaan tidak tetap atau dikenal dengan istilah mocok-mocok (31,10%).
Melihat luasnya wilayah Kerja Puskesmas Tapian Dolok dan jauhnya jarak tempuh ke puskesmas Tapian Dolok maka Puskesmas mempunyai beberapa sarana kesehatan sebagai perpanjangan tangannya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat yaitu Puskesmas Pembantu, Pos Kesehatan Desa dan Polindes di beberapa desa.
Jarak Puskesmas Tapian Dolok ke Ibu Kota Kabupaten Simalungun, Pamatang Raya ± 42 Kilometer.

PETA WILAYAH KECAMATAN TAPIAN DOLOK
KABUPATEN SIMALUNGUN

B. Visi dan Misi Puskesmas Tapian Dolok

Visi : Terwujudnya Kecamatan Tapian Dolok yang sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat 2010.
Misi :
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di Kecamatan Tapian Dolok.
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di Kecamatan Tapian Dolok.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas Tapian Dolok kepada masyarakat Kecamatan Tapian Dolok.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perseorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya di Kecamatan Tapian Dolok.

Puskesmas Tapian Dolok terdiri dari 6 (enam) Program Pokok, yaitu :
1. Promosi Kesehatan.
2. Kesehatan Lingkungan.
3. Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana.
4. Gizi.
5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.
6. Pengobatan.

Gambar 1. Gedung Puskesmas Tapian Dolok
Gambar 2. Informasi terpampang jelas di Puskesmas Tapian Dolok

1. Program Promosi Kesehatan
Kegiatan Program Promosi Kesehatan lebih banyak di luar gedung. Kegiatan lapangan mereka berupa :
1. Peningkatan pendidikan kesehatan masyarakat.
2. Pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi.
3. Pengembangan upaya kesehatan berbasis masyarakat.
4. Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat.

Gambar 3. Salah satu kegiatan penyuluhan kesehatan di Nagori Batu Silangit bentuk pendidikan kesehatan kepada masyarakat.
Gambar 4. Pelatihan Kader dan Tokoh Masyarakat dalam menghadapi Desa Siaga sebagai upaya Pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi.
Gambar 5. Partisipasi Puskesmas Tapian Dolok ikut dalam Pertemuan Tingkat Nagori bidang kesehatan di Nagori Pematang Dolok Kahean sebagai upaya mendorong kesehatan berbasis masyarakat.
Gambar 6. Media Iklan tentang PHBS dan Kesehatan yang ditempelkan di dinding masyarakat merupakan media seruan masyarakat turut serta dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Gambar 7. Hasil kinerja Puskesmas Tapian Dolok tiap tahun yang terpampang di dinding merupakan media informasi yang layak diketahui masyarakat.
Gambar 8. Meja Informasi terdapat Kotak Pengaduan, Kritik dan Saran serta Buku-buku tentang kesehatan tersedia di Puskesmas Tapian Dolok sebagai upaya peningkatan pelayanan Puskesmas dan informasi bagi pengunjung puskesmas.

2. Program Kesehatan Lingkungan.

Survei kesehatan lingkungan yang dilaksanakan di Puskesmas Tapian Dolok yaitu Keluarga yang memiliki akses air bersih dan keluarga yang memiliki sarana sanitasi dasar di tiap-tiap nagori. Kegiatan ini juga berhubungan dengan program lain sebagai upaya menciptakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat kepada masyarakat.
Keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih diartikan sebagai keluarga yang mempunyai kemudahan dalam memperoleh air bersih dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan. Akses terhadap air bersih tahun 2008 terdapat bahwa dari 10445 keluarga yang ada dan yang diperiksa sebanyak 9815 keluarga (93,96%), yang terdiri dari air ledeng, SPT. Lihat Lampiran Tabel 1.

Sedangkan cakupan untuk kepemilikan sanitasi dasar meliputi keluarga yang memiliki air bersih sehat jumlahnya 535 (43,30%) dari jumlah yang diperiksa (1236), keluarga yang mengelola sampah yang diperiksa 535 (43,30%) dan keluarga yang memiliki pengelolaan air bersih 535 (43,30%). Lihat Lampiran Tabel 2.

3. Program Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

Pelayanan Antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif.
Cakupan pelayanan antenatal merupakan salah satu indikator yang dapat menggambarkan tingkat upaya KIA dan tingkat perilaku ibu hamil. Cakupan ini dapat dipantau melalui K1 yaitu jumlah kunjungan pertama (baru) ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal, sedangkan K4 adalah pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali dengan distribusi sekali dalam triwulan pertama, sekali dalam triwulan kedua dan dua kali dalam triwulan ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.
Cakupan pelayanan K4 Kecamatan Tapian Dolok pada tahun 2008 sebesar 765 orang atau 80,30 % dari seluruh ibu hamil sejumlah 1634 orang. Lihat Lampiran Tabel 3.

Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Kecamatan Tapian Dolok tahun 2008 sebesar 4349 akseptor, sedangkan yang menjadi peserta KB baru 662 akseptor (10,19 %) dan sebagai peserta aktif 4349 akseptor (66,97%). Lihat Lampiran Tabel 4.
Gambar 9. Terlihat Pelayanan di Klinik KIA, Puskesmas Tapian Dolok telah dilengkapi USG dengan Konsultan dr.Bachder Johan, Sp.OG dalam pemeriksaan kehamilan sebagai Upaya Peningkatan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil.
Gambar 10. Pelayanan KB, terlihat pemasangan implan di Puskesmas Tapian Dolok sebagai upaya menekan angka kelahiran.

4. Program Gizi

Status gizi masyarakat dapat diukur dengan beberapa indikator, antara lain bayi dengan status gizi balita, bayi yang berat badannya rendah (BBLR).
Balita dengan gizi buruk adalah balita yang mempunyai barat badan di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS) seperti yang diperlihatkan dalam lampiran yaitu pada tahun 2008 bayi dibawah garis merah (BMG) sebesar 1 balita atau 0,04% dari jumlah balita yang ada/ditimbang (1812) dan berat badan yang naik sebanyak 1611 balita atau 88,90%. Lihat Lampiran Tabel 5.

Gambar 11. Terlihat penyaluran MP ASI kepada masyarakat yang dilakukan petugas gizi. Pemberian MP ASI ini diprioritaskan bagi keluarga tidak mampu dengan bayi kurang berat badannya.
Gambar 12. Kegiatan penimbangan bayi di Posyandu Purbasari II, merupakan kegiatan pemantauan perkembangan bayi dan dicatat di KMS.
Gambar 13. Salah satu keberhasilan Puskesmas Tapian Dolok dalam penanganan gizi buruk. Sejak ditemukan 1 kasus gizi buruk di Kecamatan Tapian Dolok, seorang anak perempuan bernama Hijratul berumur 1 tahun 1 bulan dengan berat badan hanya 4 kg sekitar bulan Agustus 2008 yang lalu, akhirnya sang anak dibawah pengawasan ketat Puskesmas Tapian Dolok. Pemberian Oralit (cairan tubuh), Biskuit MP ASI dan kontrol terhadap gizi sang anak terus dilakukan oleh dr.Togi Jerry L.Aruan, Petugas Gizi, Supiati Tanjung dan Bidan Desa Windariani. Setelah pengamatan tanggal 6 Mei 2009 (dalam tempo 9 bulan), akhirnya Hijratul mencapai berat 8,5 Kg dan sudah bisa berdiri untuk belajar berjalan.

5. Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.

Pelayanan Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31).
Suatu desa telah mencapai target UCI apabila bayi di desa tersebut mendapat imunisasi lengkap yang terdiri dari 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 3 dosis polio, 3 dosis Hepatitis B dan I dosis campak sebelum berumur 1 tahun. Cakupan Pelayanan Imunisasi dapat dilihat pada Tabel 6.

Selain imunisasi, Puskesmas Tapian Dolok juga berupaya menekan perkembangan penyakit / wabah dengan usaha preventif, promotif, kuratif. Penyakit-penyakit menular yang ditangani dapat dilihat pada Tabel 7 sedangkan Tahun 2008 kasus TB Paru menunjukkan gejala klinis sebanyak 468 kasus dengan TB Paru positif sebanyak 53 penderita dan yang sembuh 51 penderita. Lihat Tabel 8.
Gambar 14. Salah satu Kegiatan Posyandu dalam rangka imunisasi sebagai usaha pencegahan penyakit. Kegiatan di Posyandu Purbasari II di Nagori Purbasari
Gambar 15. Salah satu kegiatan dalam upaya Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Sinaksak. Kiri : Penyuluhan DBD kepada masyarakat agar melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk, 3M. Tengah : Surveilen DBD melakukan cluster pemantauan jentik di rumah warga. Kanan : Pelaksanaan foging fokus sesuai kriteria

6. Pengobatan.

Puskesmas Tapian Dolok juga melayani pengobatan kepada masyarakat. Tidak hanya diperuntukkan bagi warga Kecamatan Tapian Dolok saja, namun siapa saja dapat mempergunakan fasilitas kesehatan yang ada. Pelayanan pengobatan ini tidak hanya dilakukan di dalam gedung saja, tapi kegiatan pelayanan pengobatan di luar gedung berjadwal dilaksanakan sebagai usaha masyarakat lebih dekat untuk berkonsultasi masalah kesehatan dengan dokter.
Pada Tahun 2008, Kasus Penyakit Infeksi Saluran Atas (ISPA) merupakan penyakit terbesar dalam kunjungan pasien berobat, yaitu 1.742 dari 11.086 Kasus. Diikuti Penyakit Kulit 1482 kasus dan Bronkitis sebanyak 1427 kasus.

Gambar 16. Pelayanan di Puskesmas Tapian Dolok juga mendapat kunjungan berkala Dokter Spesialis Anak, sebagai usaha peningkatan pelayanan pengobatan kepada masyarakat. Foto : dr.Bangun Lubis, Sp.A
Gambar 17. Situasi pelayanan kesehatan di Luar gedung berjadwal dengan mendatangkan dokter dan paramedis sebagai usaha kemudahan masyarakat dalam menikmati pengobatan Puskesmas Keliling.

Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas Tapian Dolok adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang sesuai dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok Puskesmas yang telah ada yakni :
a. Upaya Kesehatan Sekolah.
b. Upaya Kesehatan Olahraga.
c. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat.
d. Upaya Kesehatan Kerja.
e. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut.
f. Upaya Kesehatan Jiwa.
g. Upaya Kesehatan Mata.
h. Upaya Kesehatan Usia Lanjut.
i. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional.

Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, Puskesmas Tapian Dolok memiliki 5 (lima) Puskesmas Pembantu, yaitu :

Gambar 18. Pustu Bah Sulung di Nagori Dolok Maraja
Gambar 19. Pustu Dolok Kahean di Nagori Dolok Kahean
Gambar 20.Pustu Naga Dolok di Nagori Naga Dolok
Gambar 21. Pustu Nagur Usang di Nagori Nagur Usang
Gambar 22. Pustu Kampung Muslimin di Nagori Negeri Bayu Muslimin

BAB II PENGELOLAAN POSYANDU LANSIA

I. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lansia, pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya.
Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9,77% dari total jumlah penduduk. Sedangkan Jumlah Penduduk lansia Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun yang berumur 64 tahun lebih 1.256 jiwa atau 3,72% dari total jumlah penduduk seluruhnya 33.731 jiwa.
. Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini, pemerintah telah mencanangkan pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.

II. Tujuan Posyandu Lansia
Tujuan pembentukan posyandu lansia di Puskesmas Tapian Dolok, secara garis besar antara lain :
1. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
2. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.

Gambar 23. Foto bersama Lansia di Nagori Naga Dolok

III. Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia.
Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut :
- Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan.
- Meja II : melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini.
- Meja III : melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi.

Gambar 24. Situasi pendaftaran Posyandu Lansia di Nagori Purbasari

IV. Bentuk Pelayanan Posyandu Lansia
Pelayanan Kesehatan di Posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan Kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.
Jenis Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di Posyandu Lansia :
1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.
2. Pemeriksaan status mental.
3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
4. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.
5. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan.
6. Penyuluhan Kesehatan.

Gambar 25. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit di Posyandu Lansia Nagori Dolok Maraja
Gambar 26. Konsultasi salah seorang Lansia di Nagori Batu Silangit
Gambar 27. Lansia juga diberikan obat dari Puskesmas bila lansia ada keluhan

V. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut di Kecamatan Tapian Dolok
Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut pada tahun 2008 di Kecamatan Tapian Dolok sebesar 362 orang. Dimana tersebar di semua nagori dengan jumlah kelompok sebanyak 10.

BAB III PEMBAHASAN

Salah satu Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia Indonesia. Dalam rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Depkes diharapkan UHH meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,6 tahun pada tahun 2009. Dengan meningkatnya UHH, maka populasi penduduk lanjut usia juga akan mengalami peningkatan bermakna. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9,77 % dari total jumlah penduduk.
Posyandu Lansia yang dilaksanakan Puskesmas Tapian Dolok diharapkan dapat memotivasi dan menggerakkan para lanjut usia, keluarga, organisasi sosial, masyarakat dan dunia usaha dalam meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan mengembangkan jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, sosial dan membebani perekonomian baik pada lanjut usia maupun pemerintah karena masing-masing penyakit tersebut cukup banyak memerlukan dana baik untuk terapi dan rehabilitasinya.
Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Dr. Budihardja, DTM & H, MPH pada seminar sehari Lanjut Usia bertema ”Lanjut Usia Sehat dan Mandiri di Tengah Masyarakat”, di Jakarta, 17 Juni 2008 menyatakan, untuk itu rencana hidup seharusnya sudah dirancang jauh sebelum memasuki masa lanjut usia, paling tidak individu sudah punya bayangan aktivitas apa yang akan dilakukan kelak sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Diharapkan para lanjut usia melakukan pola hidup sehat yakni dengan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik/olahraga secara benar dan teratur serta tidak merokok. Kegiatan ini perlu terus untuk disosialisasikan bagi masyarakat sejak berusia muda maupun yang telah berusia lanjut, tambah dr. Budihardja.
Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan telah merumuskan berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang dapat menunjang derajat kesehatan dan mutu kehidupan lanjut usia. Program pokok kesehatan menanamkan pola hidup sehat dengan lebih memprioritaskan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif), tanpa mengabaikan upaya pengobatan (kuratif) dan rehabilitatif. Pelayanan bagi para lanjut usia yang tergolong miskin diupayakan untuk dapat diberikan secara gratis melalui prosedur yang berlaku.
Setelah kita amati, terdapat beberapa mamfaat dalam pelaksanaan Posyandu Lansia, diantaranya :
1. Kepedulian Pemerintah kepada para lansia, terutama masalah kesehatannya. Disini Lansia dapat berpikir, bahwa walaupun usia mereka tidak produktif, namun dengan peran aktif Puskesmas dalam pengembangan Posyandu Lansia, para lansia secara psikologis merasa terhibur dan dipedulikan keberadaan.
2. Sebagai tempat nostalgia lansia saat diadakan Posyandu Lansia. Dengan adanya Posyandu Lansia, para lansia yang berkumpul merasa terhibur bersama teman-teman sebayanya dan berbagi cerita nostalgia masa lalu.

Namun, beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain :
1. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.
Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia.
2. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau.
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia.
3. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu.
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia.

4. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu.
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons.
Adapun tujuan Program Kesehatan Lanjut Usia adalah meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia agar tetap sehat, mandiri dan berdaya guna sehingga tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Tujuan bahwa program Lansia adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia agar tetap sehat, mandiri dan berdaya guna sehingga tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat. Aspek-aspek yang dikembangkan adalah dengan memperlambat proses menua (degeneratif). Bagi yang merasa sudah tua perlu dipulihkan (rehabilitatif) agar tetap mampu mengerjakan kehidupan sehari-hari secara mandiri. Ini dimungkinkan dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan tentang manusia berusia lanjut (Geriatri).
Seseorang dianggap dapat berhasil menjalani proses penuaan jika dapat terhindar dari berbagai penyakit, organ tubuhnya tetap berfungsi baik, serta kemampuan berpikirnya (kognitif) masih tajam. Para lansia yang berhasil mempertahankan fungsi gerak dan berpikirnya dianggap berhasil menghadapi penuaan (successful aging) sehingga tetap dapat bekerja aktif terutama di sektor informal. Mereka biasanya dapat berbagi pengalaman dan telah mencapai tahap perkembangan psikologis dimana mereka dianggap bijaksana menyikapi kehidupan dan mendalami kehidupan spiritual.
Agar tetap aktif sampai tua, sejak muda seseorang perlu melakukan kemudian mempertahankan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik/olahraga secara benar dan teratur dan tidak merokok. Rencana hidup yang realistis seharusnya sudah dirancang jauh sebelum memasuki masa lanjut usia, paling tidak individu sudah punya bayangan aktivitas apa yang akan dilakukan kelak bila pensiun sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Berdasarkan prinsip tersebut maka lanjut usia merupakan usia yang penuh kemandirian baik dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari, bekerja maupun berolahraga. Dengan menjaga kesehatan fisik, mental, spiritual, ekonomi dan sosial, seseorang dapat memilih masa tua yang lebih membahagiakan, terhindar dari banyak masalah kesehatan.
Dengan kesadaran yang tinggi, kiranya para lansia dapat mandiri terhadap kesehatannya. Terciptanya Simalungun Sehat menuju Indonesia Sehat 2010 akan terwujud dalam pengembangan Motto “Rakyat Sehat, Negara Kuat”.
Adapun saran-saran yang dapat disampaikan :
1. Kegiatan Posyandu Lansia di Puskesmas Tapian Dolok masih banyak kekurangan, kiranya perlu masukan yang membangun untuk meningkatkan Posyandu Lansia yang akan datang.
2. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun, aparat kecamatan maupun nagori dalam hal kerjasama dalam mendukung peningkatan Posyandu Lansia.

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Menyongsong Lanjut Usia Tetap Sehat dan Berguna. www.depkes.go.id, 28 Juni 2008.
2. Departemen Kesehatan RI. Jumlah Penduduk Lanjut Usia Meningkat. www.depkes.go.id, 18 Juni 2008.
3. Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun. Kecamatan Tapian Dolok Dalam Angka 2004. Koordinator Statistik Kecamatan Tapian Dolok, 2005.



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment